Figur Dukun Beranak kini menghadapi tantangan besar seiring masifnya program modernisasi kesehatan yang berpusat pada Puskesmas. Kehadiran bidan desa yang terlatih secara medis dan fasilitas persalinan modern menjadi ancaman serius terhadap peran tradisional mereka. Persaingan ini bukan hanya masalah profesi, melainkan pertarungan antara tradisi yang diwariskan dengan ilmu pengetahuan terkini.
Meskipun layanan medis modern menawarkan jaminan keselamatan yang lebih tinggi, Dukun Beranak tetap menjadi pilihan utama di banyak komunitas, terutama di pedalaman. Faktor utama adalah kedekatan kultural dan kepercayaan yang telah dibangun turun temurun. Mereka dianggap sebagai penolong yang memahami kondisi spiritual dan adat istiadat setempat, hal yang sering terabaikan oleh layanan kesehatan formal.
Salah satu fokus utama Puskesmas adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Dalam konteks ini, praktik tradisional yang berisiko tinggi sering kali disoroti. Hal ini mendorong kebijakan untuk membatasi, bahkan melarang, praktik persalinan yang dilakukan oleh Dukun Beranak tanpa pengawasan medis, demi mengutamakan keselamatan jiwa.
Namun, mengabaikan peran Dukun Beranak sepenuhnya juga menciptakan masalah baru. Di beberapa daerah, mereka adalah jembatan penghubung antara masyarakat dan Puskesmas. Para dukun ini dapat menjadi agen perubahan yang efektif jika diberi pelatihan. Mereka bisa diarahkan untuk mendampingi ibu hamil dan merujuk mereka ke fasilitas kesehatan, alih-alih menangani persalinan sendirian.
Konsep Kemitraan Bidan-Dukun telah menjadi solusi yang diterapkan di banyak wilayah untuk menjembatani jurang ini. Dalam model ini, bidan fokus pada aspek klinis persalinan, sementara dukun beranak menjalankan peran sebagai pendamping spiritual dan pemberi perawatan pasca persalinan tradisional. Sinergi ini menghargai Kearifan Lokal tanpa mengorbankan keamanan.
Tantangan lainnya adalah masalah ekonomi. Layanan Puskesmas yang seringkali disubsidi atau gratis melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) lebih menarik bagi masyarakat kurang mampu. Hal ini secara langsung mengurangi jumlah klien yang mencari jasa Dukun Beranak berbayar, memaksa banyak dari mereka untuk beralih profesi atau hanya melayani ritual adat.
Pendidikan dan sosialisasi adalah kunci untuk mengintegrasikan Dukun Beranak ke dalam sistem kesehatan modern. Dengan memberikan pelatihan mengenai tanda bahaya kehamilan dan prosedur higienis, kualitas layanan mereka dapat ditingkatkan. Ini akan mengubah mereka dari pesaing menjadi mitra strategis dalam upaya mencapai target kesehatan nasional.
Pada akhirnya, modernisasi kesehatan tidak harus berarti penghapusan total tradisi. Dengan pendekatan yang inklusif dan penghargaan terhadap Dukun Beranak sebagai penjaga warisan budaya, kita dapat menciptakan sistem persalinan yang aman secara medis, namun tetap kaya akan Kearifan Lokal yang menjadi ciri khas bangsa.