Indonesia, sebagai negara agraris tropis, sangat rentan terhadap perubahan pola iklim global. Salah satu yang paling berdampak adalah La Nina, sebuah fase dalam siklus El NiƱo-Southern Oscillation (ENSO) yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik Ekuator tengah dan timur. Kondisi ini secara konsisten membawa peningkatan curah hujan yang signifikan dan berkepanjangan ke wilayah Indonesia, memicu berbagai masalah hidro-meteorologi. Fenomena Cuaca Ekstrem La Nina secara langsung menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional, khususnya di sektor pertanian, karena dapat menyebabkan gagal panen dan kerusakan infrastruktur irigasi. Oleh karena itu, langkah-langkah antisipatif menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian ekonomi dan sosial.
Dampak utama dari Fenomena Cuaca Ekstrem ini pada sektor pertanian adalah banjir yang merendam lahan persawahan. Air yang berlebihan dapat menghambat pertumbuhan tanaman padi, jagung, dan komoditas lainnya, bahkan menyebabkan puso (gagal panen total) jika genangan berlangsung lama. Studi kasus di beberapa wilayah lumbung padi di Jawa Timur, misalnya, menunjukkan bahwa pada musim tanam 2024 yang dipengaruhi kuat oleh La Nina, lebih dari 5.000 hektar sawah terendam banjir. Untuk mengantisipasi kerugian, Kementerian Pertanian melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) menganjurkan petani untuk memilih varietas tanaman yang tahan air atau memiliki umur panen yang lebih pendek. BPP Kabupaten Ngawi, sebagai contoh, secara aktif menyelenggarakan penyuluhan tentang kalender tanam yang disesuaikan dengan prediksi curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang dilakukan setiap hari Kamis.
Selain banjir, Fenomena Cuaca Ekstrem juga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Lingkungan yang lembap dan basah merupakan kondisi ideal bagi perkembangan jamur dan bakteri patogen. Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) di lapangan diinstruksikan untuk meningkatkan frekuensi pengawasan dan pengendalian secara terpadu. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat, Ir. Taufiqurrahman, M.Sc., dalam konferensi pers pada tanggal 28 Oktober 2025, menekankan pentingnya peran aparat keamanan, khususnya Polsek di tingkat kecamatan, untuk turut mengawasi penyaluran bantuan sarana produksi pertanian, seperti benih unggul dan pupuk, agar tepat sasaran kepada petani yang terdampak.
Mitigasi bencana yang paling efektif dalam menghadapi Fenomena Cuaca Ekstrem ini adalah dengan penguatan infrastruktur dan manajemen air. Ini mencakup perbaikan dan normalisasi saluran irigasi, pembangunan tanggul sederhana, dan pemanfaatan sistem drainase yang baik di tingkat desa. Pemerintah daerah juga mendorong petani untuk mengaktifkan kembali asuransi usaha tani padi (AUTP) sebagai jaring pengaman finansial jika terjadi gagal panen. Dengan adanya integrasi informasi cuaca yang akurat dari BMKG dan implementasi strategi adaptasi yang tepat di lapangan, dampak negatif dari La Nina dapat dikurangi, sehingga stabilitas produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional dapat terjaga.